Sejarah Thrifting, Tren Anak Muda Zaman Sekarang

Dipublikasikan oleh admin pada

Istilah Thrifting sudah tidak asing lagi, bahkan tren ini berlangsung hingga sekarang dan masih digemari oleh anak muda. Begitu populernya di kalangan anak muda tidak terlepas dari sejarah thrifting yang ternyata berawal dari perjalanan panjang. Lantas bagaimanakah sejarah thrifting ? 

Apa itu thrifting ?

Thrifting adalah kegiatan berburu barang-barang thrift ke pasar atau bisa melalui e-commerce. Barang-barang tersebut dibandrol dengan harga yang murah. Hal yang menarik dari thrifting adalah tidak jauh dari kata berburu. Kalian harus memilih dan memilah serta berebut dengan orang lain.

Thrift adalah barang bekas atau second yang berasal dari barang impor. Biasanya barang ini biasanya kondisinya ada yang seperti baru atau tidak 100% mulus. Barang thrift biasanya banyak diburu karena biasanya barangnya terbatas.

Sedangkan ‘thrift shop‘ adalah toko yang menjual barang-barang thriftThrift shop kini menjadi peluang bisnis baru di kalangan anak muda karena modal yang dikeluarkan sedikit sedangkan peminatnya sangat banyak. Banyak sekali mahasiswa-mahasiswa yang menjalani bisnis ini dan mendapatkan untung yang besar.

Berkat adanya tren ini, barang bekas tidak lagi menjadi konotasi yang jelek. Saat ini thrifting tidak hanya sekedar pop culture, namun juga terdapat seni di dalamnya. Seni memilah barang dan jika seseorang bisa mendapatkan barang yang langka maka akan ada kebanggan tersendiri. Adanya budaya thrifting juga turut mewarnai perkembangan bisnis dunia fashion di Indonesia.

Sejarah thrifting

Istilah ‘thrift shopping‘ pada awalnya berasal dari bahasa Inggris yaitu ‘thrift‘, yang berarti kegiatan mengurangi pemborosan keuangan. Sedangkan ‘shopping’ adalah kegiatan membeli barang yang bertujuan untuk menghemat uang dan menekan biaya serendah mungkin. Istilah ini muncul di Inggris pada tahun 1300-an yang mengacu pada fakta atau kondisi berkembang, kemakmuran, tabungan.

Dilansir dari dari berbagai sumber, Senin (12/06/2023) kegiatan thrifting ini dimulai sekitar tahun 1.300-an, pada abad pertengahan. Pada saat itu, pakaian bekas ditumpuk dan dijual di alun-alun pasar. Ketika masyarakat mulai memodernisasi, perdagangan barang bekas dimulai sebagai sistem barter, melayani masyarakat berpenghasilan rendah.

Thrifting berkembang pada pertengahan 1800-an hingga awal 1900-an dengan berdirinya organisasi seperti Salvation Army dan Goodwill.

Penjualan barang bekas pada awalnya merupakan aktivitas penggalangan dana dengan cara menampung sumbangan dari para donatur berupa barang bekas untuk dijual. Hasil penjualan itu kemudian disumbangkan kepada para tuna netra. 

Pada tahun 1897 barulah Salvation Army mulai membuka toko barang bekas. Setelah tujuh tahun kemudian, Goodwill juga membuka toko barang bekas karena terjadi kemiskinan di Amerika, banyak masyarakat yang tidak bisa memiliki pakaian baru. Toko tersebut meraih kesusksesan hingga memiliki armada 1.000 truk pada tahun 1920-an. Sejak itulah organisasi yang bergerak di bidang amal mulai melakukan kegiatan tersebut untuk menggalang dana, bahkan mereka akan dengan senang hati mendatangi rumah donatur untuk mengambil barang bekas.

Kegiatan ini kemudian menjadi trend yang populer tidak lepas dari faktor ekonomi. Kesulitan ekonomi akibat depresi dan resesi, kemudian sulitnya bahan baku akibat dari dampak perang Dunia I dan II, menjadi faktor-faktor yang berkontribusi dalam meningkatkan popularitas barang bekas.

Adanya internet juga salah satu yang mendorong munculnya perkembangan penjualan barang bekas berbasis online. Banyak konsumen mungkin tahu bahwa eBay dan Craigslist memulai debutnya secara online pada tahun 1995. Namun, sebagian besar tidak akan menyadari bahwa ini adalah toko barang bekas berbasis online.

Dalam 25 tahun sejak penjualan barang bekas secara online, thrifting pun semakin populer dan semakin menyebar di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Tren thrifting di Indonesia

Thrifting di Indonesia diperkirakan telah muncul sejak 1980-an dan awalnya berkembang di wilayah pesisir laut Indonesia. Wilayah-wilayah yang berbatasan dengan negara tetangga seperti Sumatera, Batam, Kalimantan, hingga Sulawesi menjadi tempat utama impor pakaian bekas.

Seiring waktu, bisnis pakaian impor bekas mulai berekspansi ke pulau Jawa. Namun karena gengsi yang masih besar, kebanyakan yang menjual barang tersebut dengan sebutan ‘barang impor’ bukan dengan ‘barang bekas’.


0 Komentar

Mau Kuliah Fashion di Indonesia, Memang Bisa? - YPI.AC.ID · November 22, 2023 pada 9:14 pm

[…] khusus rakyat-jelata-hamba-sahaya, belakangan stereotip itu pelan-pelan luntur. Dikutip dari situs XT Square, kegiatan membeli baju bekas, atau yang belakangan lebih beken dengan sebutan thrifting, sebetulnya […]

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *